Sabtu, 25 Maret 2017

Ditemukan Mayat Janin Berusia 7 Bulan Di Mojosari

Image may contain: 2 people, people standingHari sabtu 25 maret 3017 Pukul 19.40 wib
telah ditemukan mayat bayi berjenis kelamin perempuan di TKP jln pemuda mojosari ( depan SMAN mojosari)
Mayat tersebut di perkirakan msh berumur 7 bulan janin.
Proses evakuasi di lakukan oleh ISM Comunity, PMI kab mojokerto, Polsek mojosari dan TAGANA Kab mojokerto
Mayat bayi tsb di bw ke kamar mayat RSUD Dr soekandar mojosari

Kecanggihan Teknologi Air Masa Kuno di Petirtaan Jolotundo

Sejumlah pria hilir mudik mengisi jeriken dengan air yang memancur dari Petirtaan Jolotundo. Air jernih keluar dari belasan lubang di batu andesit di salah satu tingkat petirtaan itu. Air seolah tak ada habisnya dari kolam air kuno yang berusia seribu tahun lebih ini.


"Air untuk kebutuhan sehari – hari. Sudah sejak dulu kami mengambil air dari petirtaan ini," kata Sukirman, salah seorang pengambil air, Minggu, 19 Maret 2017.

Air mengalir seolah tak ada habisnya. Warga setempat mengambil air berpuluh-puluh jeriken tiap harinya. Tak sedikit pengunjung juga mengambil air untuk dibawa pulang. Kolam suci ini juga sering dijadikan tempat ritual bagi pengunjung dengan berbagai keinginan.


Petirtaan Jolotundo terletak di lereng barat Gunung Penanggungan di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Mojokerto, Jawa Timur. Situs kuno ini memiliki dasar bangunan persegi berukuran sekitar 16,7 meter x 12 meter. Bangunan berbahan bebatuan andesit dengan pahatan relief dibangun pada abad 10 oleh Wangsa Isyana.

Arkeolog Universitas Negeri Malang, M. Dwi Cahyono menyebut nama Jalatunda atau Jolotundo berasal dari istilah kuno. Jala berarti air, tunda berarti bertingkat sebab Jolotundo adalah kolam dengan air keluar dari pancuran yang dibuat bertingkat.

"Situs Jolotundo menjadi bukti kecanggihan teknologi tata kelola air yang sangat maju pada jamannya," kata Dwi di sela Jelajah Petirthan untuk Refleksi Hari Air yang jatuh pada 22 Maret ini.

Air di petirtaan ini berasal dari Gunung Pawitra atau dikenal sebagai Gunung Penanggungan, sebuah gunung suci bagi umat hindu aliran syiwa. Dari gunung, air dialirkan melalui jaringan bawah tanah menuju Candi Jolotundo. Air menjadi salah satu bagian penting dalam ritual masyarakat saat itu, apalagi bersumber dari gunung yang dianggap suci.

Selain mengisi kolam pada petirtaan, air juga terus mengalir melalui jaringan bawah tanah ke sawah penduduk. Terus menuju ke pemukiman penduduk untuk kebutuhan penduduk. Karenanya, situs kuno ini memiliki fungsi ganda.

"Situs ini tak hanya bermakna religis untuk ritual, tapi juga sosial. Sebab, air dari kolam ini juga menghidupi warga," tegas Dwi.

Diperkirakan Situs Jolotundo dibangun pada tahun 899 saka atau tahun 977 masehi, merujuk angka tahun yang terpahat di sisi petirtaan. Situs dibangun oleh salah seorang raja Kerajaan Medang periode Mataram Kuno dari Wangsa Isyana di Jawa Timur, jauh sebelum kelahiran Raja Airlangga.
Pada masa lampau struktur bangunan petirtaan ada empat tingkatan. Tapi sekarang ini hanya tersisa dua tingkatan. Pada bagian kaki petirtaan terdapat kolam yang luas. Pada bagian paling atas, dulu ada bebatuan berbentuk silinder dengan sembilan lubang yang memancurkan air.
Dahulu, di relung tengah terdapat arca Raja Airlangga berwujud Wisnu mengendarai garuda. Arca kini disimpan di Museum Trowulan, Mojokerto. Di kedua sisinya terdapat bilik. Pada bilik sisi kiri air memancur dari mulut arca naga diperuntukkan bagi perempuan. Sedangkan di sisi kanan berupa arca garuda untuk kaum lelaki.
"Secara morfologis, kedua makhluk itu menggambarkan dua sisi dunia. Garuda mewakili dunia atas simbol maskulin. Sedangkan naga mewakili feminim untuk perempuan," ucap Dwi.
Petirtaan Jolotundo merupakan salah satu situs penting. Melalui situs ini bisa diketahui ada pertautan antara Raja Udayana dari Bali dengan Jawa Timur. Itu tergambar pada relief di salah satu tingkat di situs ini. Relief mengisahkan tentang Udayana yang tengah bimbang usai didongkel dari kekuasannya di Bali.
Udayana lari ke tanah Jawa dan ditampung Sri Makutawangsawardhana, Raja Medang atau Mataram perioede Jawa Timur dari Wangsa Isyana. Tidak diselamatkan, Udayana juga dinikahkan dengan putrinya yakni Mahendradatta atau Gunapriya Dharmapatni. Dari garis keturunan ini melahirkan Airlangga sang Raja Kahuripan di Jawa.
"Ini sebuah situs penting. Sayangnya, kondisinya sekarang sudah banyak mengalami kerusakan," tutur Dwi.

Jumat, 24 Maret 2017

Joget Lambak, Tarian Khas Provinsi Riau



Joget Lambak, Tarian Khas Provinsi Riau



Joget lambak atau joget dangkung adalah salah satu tarian melayu yang cukup terkenal di daerah kepulauan Riau. Konon, tarian ini sudah ada sejak zaman dahulu. Nama joged dangkung konon berasal dari bunyi-bunyian yang keluar dari alat musik pengiring tarian yaitu: gendang yang berbunyi “dang” dan gong yang berbunyi “gung”. Lepas dari itu, katanya juga,

Sabtu, 18 Maret 2017

Tarian Tandak Tarian Tradisional dari Riau dan Kepulauan Riau



Tarian Tandak Tarian Tradisional dari Riau dan Kepulauan Riau




Daerah Riau atau secara administratif disebut Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) memiliki kekayaan budaya yang beraneka ragam dari mulai sastra, musik, dan tari. Salah satu dari kekayaan Kepri ialah Tari Tandak atau danding. Tarian ini adalah tarian dan juga nyanyian. Bentuk tariannya berupa pantun yang saling bertimbal-balik antara

Pakaian Adat Riau Beserta Fungsinya



Pakaian Adat Riau Beserta Fungsinya

Kekayaan bangsa Indonesia terletak pada keanekaragaman budaya dan tradisi di setiap daerah, salah satunya adalah keberadaan pakaian. Kekayaan bangsa Indonesia terletak pada keanekaragaman budaya dan tradisi di setiap daerah, salah satunya adalah kehadiran pakaian. Pakaian budaya tak hanya dipakai sebagai kain penutup tubuh saja, Pakaian Adat Riau tetapi

Kamis, 16 Maret 2017

Rumah Adat Provinsi Riau-Selaso Jatuh Kembar



Rumah Adat Provinsi Riau-Selaso Jatuh Kembar



Ada keunikan tersendiri jika kita membicarakan soal rumah adat di Kepulauan Riau. Di sana kita akan sangat mudah menjumpai beragam jenis rumah tradisional seperti Rumah Melayu Atap Lontik, Melayu Atap Limas, Melayu Lipat Kajang, Balai Salaso Jatuh, dan Rumah Adat Salaso Jatuh Kembar. Namun ketika pemerintah pusat, pada tahun 1971, hendak membangun

Rabu, 15 Maret 2017

Mengenal Kebudayaan Provinsi Riau



MENGENAL KEBUDAYAAN PROVINSI RIAU



Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan dengan memiliki banyak pulau yang tersebar membentang Nusantara ini mulai dari Sabang sampai Merauke. Dengan banyaknya pulau tersebut menyebabkan tumbuhnynya berbagai macam kebudayaan dan kesenian yang berbeda-beda dari masing-masing daerah. Provinsi Riau adalah salah satu provinsi yang ada di Indonesia,